Monday, December 14, 2009

AIRMATA RASULULLAH SAW...

Tak bosan-bosan rasanya membaca kisah ini...

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'

'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.

Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.

'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'

'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya.

'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'

'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'


Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Thursday, December 10, 2009

Imam Ghazali Bertanya 6 soalan

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.

Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? “ .Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati” . Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” . Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?” .Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.


Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?” .Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” .Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” .Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia” . Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sejauh mana sibuknya pejabatku...

Setiap hari kita akan ke pejabat, kadang kala hari cuti juga kita akan ke pejabat, maklumlah begitu banyak tugas yang perlu kita lakukan sehinggakan masa kita habis dipejabat lebih banyak dari dirumah kita sendiri. Kita melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan bersungguh kerana kia marasai tanggungjawab dan peranan yang perlu kita lakukan, ini tanda berterima kasih kita kerana telah diberikan pekerjaan. Namun ada orang yang tiba-tiba mungkin diberhentikan, mungkin akan tiba masanya kita tidak diperlukan dan berakhirlah peranan kita dipejabat tersebut. Maklumlah kita kata dah bukan rezeki kita kerana semua rezeki adalah datang dari Allah swt.


Jika kita menyedari bahawa rezeki dari Allah swt, Allah swt mampu memberikan pekerjaan, mampu menarik balik pekerjaan yang telah diberikan bukankah ini bermakna kita adalah pegawai yang dihantarkan oleh Allah swt untuk bertugas disuatu syarikat atau pejabat. Oh kita rupanya pegawai tuhan yang di hantarkan untuk memakmurkan bumi Allah swt. Maka pejabat kita bukan sahaja di syarikat kita bekerja sekarang tetapi di muka bumi ini, di rumah, didalam kenderaan, di surau, di kedai semuanya adalah pejabat kita yang telah diberikan oleh Allah swt. Semuanya ada amanah dan tugas yang perlu kita lakukan, tetapi peranan dan tanggung jawab yang terbesar adalah menjadi abdi dengan mengiktiraf Allah sebagai rabb. Sesuai dengan ayat Allah swt Az Zariyat:56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku”


KPI utama kita adalah untuk beribadah dimana sahaja kita berada dalam menjalankan tugas sebagai pegawainya, lain-lain tugas juga telah disenaraikan di dalam Al Quran yang mengandungi peraturan kehidupan, peraturan kehidupan, peraturan perniagaan, peraturan perundangan dan merangkupi semua perkara yang mungkin kita lalui didalam kehidupan. Walaupun kita boleh menjadi pekerja cemerlang didalam penilaian manusia, adakah kita juga cemerlang didalam melaksanakan tugas di nilai Allah dengan melaksanakan KPI yang telah disediakanNya. Kadang kala kita memikirkan KPI pejabat begiitu serious sekali tetapi kita amat jarang memikirkan KPI yang telah ditetapkan oleh Allah swt untuk kehidupan kita yang sementara ini,


Kita begitu serious sekali bila bekerja dipejabat tetapi apakah kita serious dengan pejabat yang diberikan oleh Allah swt didalam kehidupan kita di muka bumi ini. Apakah kita berfikir apakah peranan kita, apakah jawatan kita, apakah keputusan pekerjaan kita, namun bayaran yang diberikan oleh Allah swt begitu besar sehinggakan tidak terhitung nilainya tetapi kita sering tidak menyedarinya. Marilah kita berfikir untuk mendapatkan yang terbaik
 
Copyright © 2009 Rumah Ku Syurga KU |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net