Friday, August 26, 2011

Selamat Hari Raya


Sungai disusur sehari-hari
Dalam gelap menangkap ikan
Kami menyusun sepuluh jari
Salah dan silap harap maafkan

Selamat Hari Raya dari kami sekeluarga.

Friday, July 22, 2011

7 employee warning signs

By Jane Porter

Thanks to recent economic woes, many people are struggling to keep their heads above water -- both personally and professionally. At work, they're likely doing the job of two or three people as employers seek productivity gains. Or maybe they're worried about another round of layoffs. On the home front, concerns about foreclosures or even putting enough food on the table may be very real.

Such stressors may be bumping up problems in the workplace. Although many warning signs go unchecked amid the hectic pace of business, owners who keep a sympathetic eye on employees will be better prepared to manage issues that come up or even prevent them entirely.

Here are seven warning signs of problem employees and what to do about them:

Warning sign: Yelling, harsh language, bullying
What it can signal: Harassment
What to do: If owners or managers witness or learn about behavior ranging from insensitive remarks to creating a hostile work environment, it's important to act on it right away. Describe the unwanted behavior and specify the consequences if it continues. Planned, periodic meetings, such as weekly team meetings or quarterly performance reviews, can also help managers stay in the loop about what's going on with employees and allow them to solve problems should issues arise.

Warning sign: Poor work quality, lack of results, avoiding responsibility, reduced productivity
What it can signal: Performance issues
What to do: Sit down with the employee and develop an improvement plan -- making sure to include detailed goals. The plan should also include a timeline for completion. If the employee does not meet the standards set, then disciplinary action, up to warnings and including termination, needs to be considered.

Warning sign: Arriving late, leaving early, taking longer breaks, calling in sick more often
What it can signal: Lack of morale, motivation or engagement
What to do: If this situation is isolated to just one employee, have a face-to-face discussion to identify the cause. If it's happening across a department or the entire company, consider conducting an anonymous survey to uncover the root causes. A lack of leadership, deficient training and inefficient processes, among other things, can have a significant impact on motivation.

Warning sign: Sporadic attendance, prolonged or frequent disappearances, missed deadlines, erratic behavior, on-the-job injuries, reduced productivity
What it can signal: Substance abuse
What to do: Address the work performance and attendance problems, and set clear expectations. If your company offers an employee assistance program, an employee benefit program aimed at helping workers cope with personal problems that can negatively impact their work performance or health, offer that up immediately. Also, if the company has a drug-free workplace policy, inform the employee of it. If the behavior continues, the disciplinary process should begin.

Warning signs: Working late into the night without cause, shaving or brushing teeth in the office restroom, sleeping at his or her desk, disengagement from colleagues
What it can signal: Personal issues at home
What to do: Raise concerns with the employee in an empathetic manner, describing the observable behavior and providing a friendly reminder of what's appropriate workplace behavior. Express concern. If your company has an employee assistance program, offer it for help. Consider suggesting time off to work things out.

Warning sign: Aggressiveness toward employees or management
What it can signal: Potential for workplace violence
What to so: Whether it's a threat or action, aggression has to be stopped immediately. This situation calls for extreme measures to protect other workers. If the need is immediate, call the police. Put in place mandatory counseling with a requirement that a therapist is the one to clear an employee to return to work.

Warning signs: Uncharacteristic isolation from others, expressing feelings that life is meaningless, giving away possessions, neglecting appearance and hygiene, sudden deterioration of work performance, talk about "getting one's affairs in order"
What it can signal: Severe depression, suicidal thoughts
What to do: The warning signs for suicide are not usually obvious, and the above list is far from exhaustive. An employee's co-workers are usually the first to notice something is amiss. If there's any concern that an employee has the potential to do harm, make a mandatory referral to an employee assistance program, if your company has one, or another professional to help provide the counseling he or she may need.

If an employer notices any of these signs, the first step should be to take the employee aside, and in a one-on-one environment, ask "Is everything OK?" Often a simple gesture of care and concern is enough to start a conversation and begin to understand what's going on with that employee.

Tuesday, June 14, 2011

Mengapa Muslim biarkan hati mati

Ustaz Zainudin Hashim

Hati adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan ia nikmat paling agung diberikan Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang.

Niat ikhlas itu akan diberi pahala. Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya membabitkan seluruh anggota tubuh manusia.

Akibatnya, akan lahir penyakit masyarakat berpunca daripada hati yang sudah rosak itu. Justeru, hati menjadi amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.

Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana bergelumang dengan dosa. Setiap dosa yang dilakukan tanpa bertaubat akan menyebabkan satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Bayangkan bagaimana kalau 10 dosa? 100 dosa? 1,000 dosa?
Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.
Perkara ini jelas digambarkan melalui hadis Rasulullah yang bermaksud: "Sesiapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya.

Jika dia tidak bertaubat maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (Hadis riwayat Ibn Majah)

Hadis ini selari dengan firman Allah bermaksud: "Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka sudah diselaputi kotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan." (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14)

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan untuk mengamalkannya.

Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud: "Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya.

Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan." (Surah al-Baqarah ayat 74)
Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah.
Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Perkara paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlaku kemusnahan amat besar terhadap manusia. Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan.

Inilah akibatnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan Allah pada hari akhirat kelak.
Kenapa hati mati? Hati mati disebabkan perkara berikut:

  • Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah.
Allah berfirman bermaksud: "Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata." (Surah al-Zumar ayat 22)
  • Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani dengan sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitu juga hati.
Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya. Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri.
Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir).

Firman Allah bermaksud: "Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia." (Surah al-Ra'd ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud: "Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik." (Surah al-Syura ayat 88-89)

Tanda-tanda hati mati

Menurut Syeikh Ibrahim Adham, antara sebab atau tanda-tanda hati mati ialah:

  1. Mengaku kenal Allah SWT, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.
  2. Mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mengabaikan sunnah baginda.
  3. Membaca al-Quran, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
  4. Memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak mensyukuri atas pemberian-Nya.
  5. Mengaku syaitan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya.
  6. Mengaku adanya nikmat syurga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
  7. Mengaku adanya seksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
  8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya.
  9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
  10. Menghantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya. Semoga dengan panduan yang di sampaikan itu akan dapat kita sama-sama mengambil iktibar semoga segala apa yang kita kerjakan akan diredai Allah SWT.

Menurut Sheikh Ibni Athoillah Iskandari dalam kalam hikmahnya yang berikutnya; Sebahagian daripada tanda mati hati itu ialah jika tidak merasa dukacita kerana tertinggal sesuatu amal perbuatan kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.

Mati hati itu adalah kerana tiga perkara iaitu;

  • Hubbul dunia (kasihkan dunia)
  • Lalai daripada zikirullah (mengingati Allah)
  • Membanyakkan makan dan menjatuhkan anggota badan kepada maksiat kepada Allah.

Hidup hati itu kerana tiga perkara iaitu;
  • Zuhud dengan dunia
  • Zikrullah
  • Bergaul atau berkawan dengan aulia Allah.

Komunikasi berkesan

Assalammualaikum dan salam sejahtera.

Komunikasi suatu yang sentiasa kita lakukan didalam kehidupan, namun banyak komunikasi kita yang terhalang sehinggakan berlaku perselisihan paham dan kadang kala pergaduhan yang tidak dijangkakan. Ada beberapa faktur yang menyebabkan komunikasi terhalang dan diantaranya adalah seperti berikut:

  1. Tidak menghiraukan maklumat yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui (tidak kisah tentang maklumat yang ada)
  2. Dipengaruhi oleh tanggapan (persepsi) yang salah dan tanggapan jangkaan
  3. Sangsi terhadap sumber
  4. Tidak peka terhadap respon orang
  5. Perbezaan makna perkataan dan intonasi

Mari kita renungkan sejauh mana kita berinteraksi dengan maklumat diatas, Ada kalanya kita memang tidak kisah tentang sesuatu maklumat yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui, tetapi apabila kesan dari maklumat itu menyusahkan kita mungkin kita baru nak mengambil tahu dan cuba untuk membetulkan situasi tersebut, mungkin telah terlewat namun adalah lebih baik cuba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dari membiarkan masalah tersebut terus wujud tanpa ditangani dengan sebaik mungkin.

Sebagai contohnya jika seseorang memberikan maklumat melalui email menyatakan akan berlaku sunami, apakah yang respon kita, adakah kita akan menyemak dan ingin mengetahui kebenarannya atau kita akan membiarkan sahaja email tersebut dan menyatakan ianya dusta semata-mata kerana mana mungkin sunami akan berlaku di Malaysia. Bagaimana pula tindakan kita bila ada yang menyatakan bahawa buku ini tidak ada kesilapan fakta dan isinya walaupun sedikit. Apakah yang akan kita lakukan? Adakah kita akan cuba untuk menelitinya dan mengetahui segala kebenaran yang ingin disampaikan atau kita tidak membukanya dan sebaliknya cukup dengan menyimpan sahaja buku tersebut. Tentu seorang yang kurang akalnya atau terlalu sombong jika hatinya tidak tersentuh untuk mengetahui isi buku tersebut.

Allah swt berkomunikasi untuk semua manusia melalui Al Quran dan menyatakan didalam Ayat yang ke 2 "This is the Book; in it is guidance sure, without doubt, to those who fear God". (Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa). Sejauh mana kita ingin meneliti akan isi kandungan yang penuh dengan kebenaran ini didalam kehidupan kita. Adakah kita merasakan kita mengetahui segala-galanya sehinggan kita tidak mahu mendapatkan tunjuk ajar dari Allah swt. Bukankah itu namanya sombong dan tentu kita akan memarahi seseorang yang tidak mahu mendengar nasihat kita sekiranya kita tahu mereka berada didalam jalan-jalan menuju kehancuran. Namun Allah swt yang maha pengasih dan penyayang mahukan keselamatan untuk kita dan dibekalkan dengan panduan kehidupan tetapi kita terlalu sibuk untuk meneliti panduan tersebut sehingga menguruskan kehidupan dengan cara kita sendiri. Marilah kita renungkan kehidupan kita agar kita mendapat yang terbaik kerana berkumunikasi dengan fakta dan data yang betul. Allah hu alam.

Komunikasi Terhalang Merugikan

Assalammualaikum dan salam sejahtera,

Komunikasi sehala adalah suatu penderitaan, mungkin kita akan mengalami berbagai rasa apabila kita tidak dapat berhubung dan berbincang dengan baik, berbagai faktur yang menyebabkan perkara ini terjadi dan yang penting sekali adakah kita mencari kesilapan diri kita dahulu berbanding dengan mencari kesilapan orang lain.

Sebagai contohnya komunikasi suami isteri, adakalanya tiada ribut, tiada hujan dan tiada tanda-tanda tetapi kata orang angin tak baik menyebabkan si isteri tiba-tiba seperti termakan pil bisu, tiada bicara dan kata, atau tiba-tiba seperti murai dicabut ekornya membebel tak tuntu pasal. Ini tertu sekali berpunca daripada komunikasi yang terhalang. Apa yang perlu dilakukan? Ambil kunci kereta dan terus meninggalkannya? Jika itu dapat mengatasi masalah atau menambahkan lagi masalah? Masalah sebenarnya memerlukan keberanian untuk menghadapinya, si suami perlu dengan segera menyentuh isteri, mungkin kurang perhatian, mungkin terlalu sibuk dan penat sehingga terlupa si issteri perlu dilayani. Kasih sayang perlu disemai agar yang letih menjadi segar, yang rungsing dapat dirungkai, yang bermasalah dapat diatasi. Semuanya bermula dari kesediaan hati untuk mendapatkan yang terbaik buat kebahagian yang ingin dicapai.

Bila kita memperkatakan soal perasaan ianya memerlukan pengorbanan dan bila kita memperkatakan pengorbanan ianya akan dirasai kesukarannya, namun cinta akan mengatasi segala kesukaran dan menyebabkan segala yang sukar menjadi mudah. yang sulit menjadi senang, yang terpaksa menjadi rela. Cinta menjadi kalimat rahmat yang akan merubah segala-galanya menjadi suatu keindahan kehidupan.

Islam menitikkan perasaan cinta sebagai faktur utama untuk menentukan keimanan seseorang. Cinta Allah swt akan mengatasi segala-galanya yang akan menyebabkan seseorang sanggup melakukan apa sahaja hatta berpisah dengan nyawa sendiri sekalipun. Namun hakikat ini bukan semudah ucapan atau tulisan tetapi ianya lahir dari keyakinan dan kepercayaan. Sejauh mana sebenarnya kepercayaan kita kepada ilahi sehingga kita sanggup melakukan apa sahaja hanya kerana Allah swt. Sejauh mana kita sentiasa meletakkan keputusan kita dengan mengambil kira Allah swt dahulu dihadapan kita. Adakah kita mencari keredaan Allah swt atau kita mengambil penilaian manusia dahulu didalam keputusan yang kita ambil dalam kehidupan. Marilah kita fikir-fikirkan segala ranjau dan kkehidupan yang telah kita lalui sejauh mana kita mengambil AlQuran sebagai rujukan dan panduan kehidupan atau kita akan terus hidup tanpa al quran sebagai panduan. Allah hu alam.

 
Copyright © 2009 Rumah Ku Syurga KU |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net